1 Comment

[FF] Our Joint Business (Han Sang Ah + Choi Siwon) – part 1


author: Angelaft Racta

casts: Han Sang Ah (OC), Choi Siwon (super junior), Han Eun Jo (OC), Choi Ki Ho (Siwon’s Father)

genre: Romance

Length: 2 parts

————————————————————————————————————

Apppaaaa!!!! (Ayah), kau menyusahkan sekali! Memangnya dia tidak tau kalau aku punya jam kuliah sekarang! Aish, terpaksa aku keluar ditengah-tengah kuliah demi menuruti perintah Appa. Jadi disinilah aku sekarang, menyetir honda jazz putihku (yang kuberi nama Shiro, hadiah ulangtahunku ke-17 dari Appa) sambil mendengarkan lagu-lagu milik Super Junior (ah, betapa cintanya aku pada boyband dari Korea yang satu ini). Sudah berkali-kali aku melirik jam padadashboard mobilku. Ah! Sial! Ternyata aku hampir terlambat.

“Ya! Sang Ah, Appa mohon. Kau bisa kan menjemput Mr. Choi di bandara? Dia datang jauh-jauh dari Korea untuk menemui kita. Tolong Sang Ah, mengertilah. Mr. Choi itu pemilik utama perusahaan Boryung dan Hwanha di Korea. Kau tahu, dia calon investor yang sangat potensial. Bahkan dia sendiri yang langsung datang kesini. Pastikan kau meninggalkan kesan baik padanya agar proyek ini berhasil. Jangan sampai terlambat dan sambut dia dengan baik, Arrachi?”

Tapi Appa, ini aku sudah menyetir 120 km/jam dan tampaknya aku masih akan terlambat sampai di bandara. Miyanhae, appa.😥

Ah, baiklah, sebelum kita lanjut ke adegan ngebut gila-gilaan yang sebentar lagi kulakukan, let me introduce myself first. Namaku Han Sang Ah. Anak pertama dari dua bersaudara (aku punya satu namdongsaeng; adik laki-laki) di keluarga Han. Keluarga kami sebenarnya berasal dari Korea hanya saja karena perusahaan tambang batu bara milik Appa ada di negara dengan-setir-mobil-di-kanan-ini jadi kami sekeluarga pindah kesini. Sudah cukup lama kami berada disini. Eun Jo (namdongsaeng-ku) saja lahir disini.

Tentang perusahaan milik Appa. Perusahaan Han Coal Corp iniadalah perusahaan tambang batu bara yang cukup sukses. Pasar luar negeri banyak yang memesan batu bara pada Apparegulary. Dari mulai pasar dalam negeri, China, Jepang, bahkan Korea sendiri.  Karena perusahaan Appa yang cukup maju inilah aku sekeluarga bisa hidup berkecukupan.

Cause I can’t stop thinking bout you girl… Ah, namja-deul yang tampan ini mulai bernyanyi dari iPhone-ku. “Yeobboseyyo?” (Halo?)

“Sang ah!” Appppaaaa!!! Tak taukah dirimu kalau anak gadismu yang belum tamat kuliah ini sedang nyetir gila-gilaan sampai 130 km/jam agar tidak terlambat. Kau malah mengganggu konsentrasiku pada setir dengan menelepon. Aish jjinjja! Semoga sepanjang jalan aku tidak menemui polisi! Bisa-bisa aku ditilang karena melanggar batas kecepatan yang hanya 60 km/jam. “Kau sudah sampai?”

“BELUM APPA!!! Aku sedang kuliah waktu Appa menyuruhku untuk cepat pergi. Ah Appa, memangnya tidak ada sopir kantor yang bisa disuruh untuk menjemput Mr. Choi?”

“Sang Ah. Aish, kau belum mengerti juga. Percuma Appa menyekolahkanmu di sekolah bisnis!” Ye, aku tahu kalau aku memang calon cum laude di jurusanku dengan hanya mendapatkan dua buah ‘B’ sepanjang aku kuliah (sisanya dapet A lho). Apa sih yang belum kudapat dari kampus?

“Tidakkah kau mengerti? Mr. Choi DATANG SENDIRI kemari. Maksudku, seharusnya aku yang datang terlebih dahulu ke tempatnya untuk meyakinkan dia dan baru mengajaknya untuk melihat langsung tambang kita. Tapi dia sendiri yang bilang INGIN DATANG SENDIRI/ Itu berarti dia ingin kenal Appa secara lebih personal. Lebih kepada pendekatan pribadi dibandingkan pendekatan bisnis. Sebenarnya aku sendiri yang akan menjemputnya. Tapi mendadak ada rapat direksi. Daripada supir, lebih baik kau bukan? Lagipula bukankah kau juga bagian dari Han Coal Corp?” Ah ya, selain anak dari pemegang 51% saham Han Coal Corp, aku juga bagian dari Han Coal Corp dengan pegangan saham 5%. Aku juga bekerja disana di sela-sela kuliahku. Tapi masih dilevel rendah sih. Appa memang menyuruhku untuk belajar dari awal seperti Appa yang merintis usaha ini dari awal.

“Ne… Arrasao (Ya, aku mengerti).” Akhirnya aku pasrah saja. “Lagipula aku sebentar lagi sampai di bandara.”

“Bagus! Sekarang, Kajja, Palli (Pergi, cepat).”

“Ne Appa. Saranghae.”

“Nado saranghae my little princess.”

**********

Reached! Bandara. Untung saja pesawat yang ditumpangi Mr.Choi di delayed karena ada gangguan cuaca. Eh? Untung? Kalau dipikir-pikir tetap saja aku rugi. Berdiri dengan memegang papan bertuliskan Choi Ki Ho didepan pintu kedatangan. Aish, ini memalukan sekali. Teganya Appa.

Orang-orang yang datang dari Korea mulai terlihat. Oh, sudah datang rupanya. Karena itu aku mengangkat papanku lebih tinggi agar Mr. Choi Ki Ho bisa melihat papanku. Huh, aku benar-benarclueless tentang tampang Mr. Choi Ki Ho itu. Pasti pria kaya yang memakai jas dan kacamata, dan sebagian rambutnya sudah memutih. Eh? Atau mungkin Mr. Choi Ki Ho itu bukan orang tua. Dia adalah eksekutif muda yang sudah merintis perusahaannya.

Baru saja benakku berkata kemudian tiba-tiba ada sesosok pria tampan yang… eh? Dia berjalan kearahku? Oh My God, jangan-jangan perkiraanku benar. Choi Ki Ho itu eksmud (eksekutif muda) yang akan berinvestasi di perusahaan Appa.

Treeettt *bunyi kaset rusak*. Ternyata si tampan tadi hanya melewatiku untuk menghampiri sopir yang berdiri di belakangku. Ah, sial! Sekarang malah ada seorang tua yang persis berada dalam bayanganku sebelumnya (pria tua yang memakai jas, kacamata, dan rambutnya sudah sedikit memutih) menghampiriku.

“Han Sang Ah?”

Ne. Choi Ki Ho-ssi?”

Ne! Senang bertemu denganmu Sang Ah.” Tuh kan benar! Choi Ki Ho ini memang sudah tua. Lebih tua sedikit dari Appa mungkin.

Aku membukakan pintu belakang mobil untuk Mr. Choi. Tetapi dia malah menolak duduk dibelakang. “Kau kan bukan supir-ku, Sang Ah. Bagaimana kalau aku duduk didepan saja dan kita bisa mengobrol bersama?”

Arrasou.” Aku membukakan pintu depan untuk Choi Isa (Direktur Choi). Kalau dipikir-pikir, dia ini tamu pertama yang menaiki Shiro-ku selain teman-temanku. Appa dan Umma-ku saja tidak pernah naik ke mobil ini. Hanya Eun Jo saja keluargaku yang sering nebeng ke Shiro.

Aku men-starter Shiro dan begitu nyala langsung terdengar suara Siwon, anggota super junior favoritku. Aku suka lagu ini, Me-super junior M. Aku semakin suka lagu ini karena Siwon yang mendapat giliran pertama menyanyi.

 

Hok si gahm cheoh waht deon geoh nee

Neouyeh ma eum ee

Byun hae ga geoh itneun gul mal ya

Muka Choi Isa mendadak aneh dan tampak sedikit tidak setuju dengan musik yang tiba-tiba terdengar. Babo! Kenapa tadi aku lupa mengeluarkan CD super junior ini. Padahal sebelum turun tadi aku sudah berencana menyetel musik jazz. “Maafkan aku Isa Choi. Tadi aku lupa mengeluarkan CD-nya pada saat aku mematikan mobil. Apa kau tidak suka mendengarkan musik? Apa selera musikmu Isa Choi? Aku punya koleksi beberapa lagu jazz kalau kau mau.”

“Ya, itu saja kalau boleh.” Choi Isa langsung tersenyum. Aku langsung mengambil CD Michael Buble. “Kau suka musik Sang Ah?”

Aku sedikit kaget awalnya karena Choi Isa terlihat ingin berakrab-akrab ria denganku. Awalnya kupikir dia seorang direktur yang kaku. “Ne. Aku menyukainya, terutama lagu-lagu Korea. Mengingatkanku pada kampung halamanku. Semua orang selalu ingin kembali ke kampungnya bukan begitu, Choi ISa?”

“Kau benar. Musik apa yang paling kau suka?”

“Pop!” Ha! Jawaban yang langsung bisa kujawab tanpa perlu berpikir. “Tapi sebenarnya aku menyukai lagu apapun yang dinyanyikan super junior.”

“Ternyata kau mengetahuinya juga ya Sang Ah.”

“Eh?” Mengetahui apa yang dimaksud Choi Isa?

“Super junior. Ah, sudahlah. Lalu apa kegiatanmu sekarang?”

“Aku?” Memangnya kenapa Choi Isa tertarik dengan kehidupan pribadiku? “Aku masih kuliah di jurusan bussiness management. Aku juga terjun langsung di perusahaan Appa. Jadi aku kuliah sambil bekerja.” Hitung-hitung belajar jadi penerus, kata Appa. Sepertinya memang begitu. Appa mempersiapkanku untuk menjadi penerusnya karena Eun Jo sepertinya sama sekali tidak tertarik didunia bisnis. Tapi tak apa, toh aku mencintai dunia bisnis. Seperti aku terlahir untuk ini (dunia bisnis).

Jeongmal? (Benarkah?) Hahaha.” Suara tawa membahanan didalam Shiro. Tapi Choi Isatidak terdengar seperti menertawaiku dalam arti sebenarnya. Lebih seperti tertawa karena bangga. “Appa-mu pasti bangga memiliki putri sepertimu. Kau pintar dan berbakat. Appa-mu sering sekali membicarakanmu waktu kita berdua chatting. Aku percaya kau pasti jadi pebisnis sukses.”

Khamsa hamnida Choi Ki Ho Isa.”

Dari gedung-gedung tinggi, sekarang pemandangan sudah berubah menjadi suasana perumahan. Sebentar lagi kami akan sampai dirumahku. Choi Isa membetulkan letak kacamatanya dan menerawang “Andai saja anakku sepertimu, Sang Ah.”

**********

Bisnis Appa bersama Choi Ki Ho Isa sepertinya berjalan dengan lancar. Dibandingkan rekan bisnis, mereka berdua lebih terlihat seperti sahabat. Beberapa hari semenjak kedatangan Choi Ki Ho Isa, dia dan Appa langsung menuju lokasi tambang yang letaknya cukup jauh dari pusat kota. Karena itu aku sama sekali tidak bertemu Choi Ki Ho Isa semenjak aku menjemputnya waktu itu.

“Appa-mu lama sekali.” Umma benar. Appa masih belum sampai. Hari ini adalah hari ulang tahunku ke-20. Kami bermaksud merayakannya di sebuah restoran. Bukan perayaan besar, hanya dengan keluargaku saja. Tetapi Appa masih belum sampai sehingga aku bahkan belum menyalakan lilinku.

“Yasudah, kita makan saja dulu! Aku sudah lapar.”

Bletak! Aku menjitak kepala Eun Jo. Apa sih yang ada di kepala namdongsaeng berumur 15 tahun ini? “Enak saja makan duluan! Pokoknya harus menunggu Appa!”

“Maaf terlambat.” Suara Appa mengagetkan kami semua. Appa! Akhirnya dia datang dengan seseorang yang mengikutinya dari belakang. Ah, bukankah itu Choi Ki Ho Isa.

Saengil chukkae my little princess.” Appa mengecup kedua pipiku kemudian memberiku sebuah bingkisan yang bentuknya seperti map.

“Aih, aku dapat hadiah. Khamsa hamnida Appa.” Map apa ini? Aku membukanya dan… Omobeberapa surat saham. “Appa…”

“Tinggal kau tandatangan saja surat-surat itu dan beberapa persen saham itu akan jadi milikmu. Bukan hanya saham perusahaan Han Coal Corp tetapi juga saham dari Hwanha dan Boryung. Appa membeli beberapa persen saham dari Ki Ho-ssi untukmu.” Aku menatap Choi Ko Ho Isa yang juga tersenyum menatapku.

Sangeil chukkae Han Sang Ah. Maaf aku tidak membawa apa-apa. Appa-mu baru tadi mengundangku kesini dan aku tidak tau kalau ternyata hari ini adalah hari ulang tahunmu.Miyanheyyo (maaf).”

“Ah, gwenchanayo. Aku sudah sangat berterimakasih kau mau datang ke acara ulang tahunku Choi Isa.”

“Semuanya sudah lengkap kan? Kalau begitu ayo mita makan! Kajja!! (Ayo!)” Eun Jo! Kau benar-benar tidak sabaran. Tapi Eun Jo benar. Ini waktunya untuk melahap makanan-makanan enak ini. Terimakasih hadiahnya Appa. Saranghae..

***********

(Author POV)

Choi Ki Ho sedang menikmati makan malamnya di Korea berdua dengan istrinya. Sudah lama sekali rasanya mereka terpisah karena Ki Ho pergi untuk melihat tambang batu bara tempat dimana dia akan berinvestasi.

Yeobbo (sayang), kau sudah menghubungi dia?” Istri Ki Ho menatap Ki Ho dengan penuh harap. “Kupikir dia harus segera mulai memikirkan masa depannya. Aish, anak itu. Selalu pulang larut malam sehingga kita tidak punya kesempatan untuk berbicara padanya dan pergi pagi-pagi sekali. Aku tinggal dengannya tapi seperti sudah tidak bertemu berhari-hari.”

Ki Ho meletakkan garpunya. Memikirkan anak laki-lakinya itu selalu membuat dia pusing dan kehilangan nafsu makan. “Belum. Sepertinya dia sibuk sekarang. Andai saja dia seperti Sang Ah. Aku pasti tidak sepusing ini sekarang.”

“Sang Ah?”

Ne. Anak perempuan Han Go Jung pemilik Han Coal Corp yang kemarin aku kunjungi. Dia masih muda, masih umur 20 tahun. Tapi sedikit demi sedikit dia sudah bertindak dalam bisnis ayahnya. Anak yang pintar, dia bahkan kuliah di jurusan management.” Istrinya hanya tersenyum mendengar perkataan suaminya. “Dan dia sangat menyukai super junior.”

“Hahahahaha.” Si Istri yang cantik ini juga kemudian melupakan makan malamnya dan malah larut dengan obrolan bersama suaminya. “Yeobbo aku ingin berkenalan dengan Sang Ah. Tak bisakah dia menyuruhnya ke Korea?”

“Mana mungkin. Dia pasti sibuk sekali dengan kuliahnya dan juga urusan kantor ayahnya.” Nyonya Choi tampak kecewa dan kemudian menyuap dagingnya tanpa semangat. “Ah! Atau mungkin bisa! Tunggu Yeobbo, aku harus menghubungi babo namja itu!”

Choi Ki Ho mengambil handphone-nya dan mencari nama anaknya dalam kontak. “Kau sedang sibuk?? Tidak tidak, aku tidak sedang memaksamu pulang… Ngomong-ngomong bisakah aku meminta tiket private concertmu? Untuk dua orang. Anio (bukan) tentu saja bukan aku yang akan menonton konser anak muda itu. Pokoknya kau kirim sajalah. Ahh..ye ye..” Klik, sambungan telepon ditutup.

“Beres Yeobbo dengan begini Sang Ah pasti akan datang.”

***********

(Sang Ah POV)

Aku kembali memulai kehidupan normalku sebagai mahasiswa sekaligus karyawan di Han Coal Corp. Aku menempati posisi sebagai asisten manajer keuangan, Vivian Onnie. Vivian Onnie memang sudah seperti Onnie-ku sendiri. Dia masih muda namun sangat pintar sehingga bisa memegang jabatan penting.

“Sang Ah.” Vivian Onnie memanggilku. Aku berbicara dalam bahasa ibu-nya Vivian Onnie. Tentu saja karena Onnie tidak bisa berbahasa Korea. Dia memang orang asli negara ini. Tapi aku tetap memanggilnya Onnie karena aku sudah terbiasa meskipun dia bukan orang Korea. “Ada surat untukmu. Office boy yang mengantarnya barusan.”

Surat? Untukku? Kenapa dikirim ke kantor? Kenapa tidak ke rumah saja? Aku  menerima surat yang kumaksud dari tangan Onnie. “Terimakasih Onnie.”

Aku lihat siapa pengirimnya. Choi Ki Ho langsung dari Korea? Ah ya, aku tahu Choi Isa memang sudah kembali ke Korea beberapa hari yang lalu. Tapi kenapa sekarang dia mengirimiku surat? Kenapa tidak lewat email saja? Atau malah, kenapa harus mengirimiku surat?

Saengil chukkae Sang Ah. Maaf waktu itu tidak sempat memberikan apapun. Maaf baru sekarang aku mengirimimu hadiah ulang tahun yang terlambat. Semoga kau menyukainya. Sampai bertemu di Korea… Salam, Choi Ki Ho?

Sampai bertemu di Korea? Apa maksudnya? Didalam amplop itu masih ada beberapa kertas. Ada alamat web dan semacam password untuk mengakses tiket online penerbangan ke Korea dan juga….

“AAAAAAAAA ONNNIIIIIEEEEE!!!! AKU DAPAT TIKET PRIVATE CONCERT SUPER JUNIOR!!!!!!!!!!!!!!”

************

“Kyyaaaaa!!! Siwoooonnn!!!” Ah, menyenangkan sekali melihat Siwon didepan mataku. Choi Isa baik sekali mau memberikan tiket private concert ini untukku dan Eun Jo. Konser yang penontonnya hanya ada 100 orang dan aku termasuk kedalam salh satunya. Tapi bagaimana bisa ya Choi Isa mendapatkan tiket tertutup ini? Ah, mungkin Choi Isa itu orang yang benar-benar kaya sehingga bisa mendapatkan apapun dengan mudah.

“Berisik sekali!” Eun Jo, kau banyak protes! “Tidak bisakah kau tenang sedikit? Ini kan private concert. Aku yakin mereka (menunjuk kearah super junior yang sedang tampil) dapat mendengar teriakanmu sekarang. Dasar kampung!”

Mungkin Eun Jo benar. Penonton disini sedikit sekali dan aku berteriak sekuat tadi. Bahkan mungkin… Oh tidak, Siwon bahkan turun dari panggung dan menghampiriku sambil bernyanyi? Eih?

Siwon-ssi yang memakai jas putih itu menghampiriku, menggenggam tanganku kemudian bernyanyi. “Sotto me wo tojite hoshii. Usume wo aketenai de.” (Marry U, Jappanese version by super junior).

Ketika giliran menyanyinya selesai, giliran Leteuk-ssi yang melanjutkan bagiannya. Dari sini aku bisa melihat Leteuk-ssi tersenyum-senyum kearah Siwon penuh arti. Selagi lagu masih berjalan, Siwon-ssi menarikku keatas panggung dan berdansa. Aduh, aku malu sekali. Meskipun mukaku sudah merah, Siwon tak henti-hentinya berdansa denganku. Siwon membiarkan yang lain bernyanyi sedangkan dia sendiri tetap berdansa.

 

Issho hanasanai, I do

Donna taki mo I do

Sekai ni owari ga kitemo, I do

Eien no ai my love

Choi Isa, jeongmal jeongmal khamsa hamnida

***********

“Terimakasih sudah mau datang Sang Ah, Eun Jo. Kalian menikmati konsernya?” Choi Isa mengundangku kerumahnya. Ternyata benar, dia benar-benar kaya. Di rumahnya dia bahkan memiliki helipad (tempat mendarat helikopter).

Ne. Benar-benar menikmati. Jeongmal jeongmal khamsa hamnida.”

“Tak usah berterimakasih padaku. Harusnya kau berterimakasih pada istriku. Dia yang memaksaku untuk mendatangkanmu kemari. Katanya dia ingin berkenalan denganmu.”

“Eh?” Keherananku belum selesai ketika melihat wanita cantik yang tiba-tiba berdiri disebelah Choi Isa. Cantik dan anggun sekali meskipun terlihat sudah berumur. Ah, dia pasti istri Choi Isa. “Khamsa hamnida telah mengundang aku dan Eun Jo. Nyonya Choi.”

Nyonya Choi menggandeng tanganku dan mengajakku beranjak darisana. “Tak usah terlalu kaku begitu Sang Ah. Namaku Kim Ri Yeon. Kau panggil aku bibi saja.”

Ne ahjuma.”

Ri Yeon ahjuma benar-benar orang yang menyenangkan. Dia mengajakku berkeliling rumah dan bahkan kami berdua duduk di gazebo di taman bunga untuk minum teh bersama (dan meninggalkan Eun Jo yang sedang asik berkuda). “Sang Ah, kau sudah punya pacar belum?”

Uhuk! Hampir saja aku menumpahkan tehku ketika mendengar pertanyaan ahjuma yang tiba-tiba. “Hahahaha. Belum ahjuma, aku terlalu sibuk dengan kuliah dan urusan kantor.”

“Kau ini. Biar bagaimanapun yeoja (perempuan) harus memiliki seorang namja (laki-laki) agar tidak kesepian. Ah ya Sang ah, kau mau mampir ke ruang bacaku? Aku ingin menunjukkan sesuatu.”

Aku mengangguk dan mengikuti langkah ahjuma yang sangat lambat. Tapi tidak apa-apa, selama dalam perjalanan kami membicarakan banyak hal. Terutama banyak membicarakan tentang anak laki-laki ahjuma dan ahjussi (sekarangpun aku memanggil Choi Isa dengan panggilan ‘ahjussi’ atau ‘paman’) yang belum pernah kutemui.

“Dia itu merepotkan Sang Ah! Kau tahu, Appa-nya sampai pusing memikirkan penerusnya. Dia itu benar-benar tidak berminat meneruskan usaha Appa-nya. Tetapi My yeobbo tidak pernah berhenti memaksanya untuk menjadi pengusaha. Andai saja dia sepertimu Sang Ah.” Aku hanya tersenyum saja membayangkan anak laki-laki mereka berdua.

Di ruang baca, Ri Yeon ahjuma menunjukkanku beberapa buku karangannya. Ternyata dia juga penulis cerita roman yang cukup terkenal. Aku bahkan memiliki beberapa bukunya. Tapi ahjuma bilang itu hanya hobinya.

“Pekerjaan utamaku adalah mengurus keluargaku. Bukankah begitu Sang Ah?”

Di ruang baca itu juga, aku melihat foto keluarga yang terdiri 4 orang. Appa, Umma, dan seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Hihihi, ini foto yang diambil beberapa tahun yang lalu saat kedua anak mereka masih kecil sepertinya. Ahjuma dan Ahjussi juga keliatan lebih muda disini. “Ahjuma, jadi yang kau maksud dengan anak laki-laki itu ini ya?”

Ajuma yang sedang mengembalikan buku-buku ketempatnya mengangguk, “Ya! Padahal sebagai anak laki-laki satu-satunya sudah seharusnya dia sendiri yang meneruskan perusahaan ayahnya. Apalagi sekarang Hyundai departemen store kami juga sedang maju dan berencana membuka cabang lagi. Adiknya juga sama saja, dia malah kuliah sastra ke Amerika. Mereka itu!”

Mwo? Jadi kalian juga memiliki departmen store?” Wah, mereka benar-benar kaya. Padahal keluargaku saja sudah dibilang kaya oleh orang-orang. Tetapi mereka, mungkin hartanya 10 kali lipat harta Appa.

Ahjuma membelai rambutku dan tatapannya, seakan-akan aku anaknya sendiri, “Sang Ah, melihatmu aku jadi merindukan Jiwon anak perempuanku. Ah ya, sebentar lagi si sulungku kesini.My Yeobbo sudah memerintahkannya untuk pulang.

Tak lama kemudian terdengar langkah kaki dan suara seorang namja yang sepertinya sedang berbicara dengan ahjussi.

“Sepertinya dia sudah datang. Ayo kita hampiri dia, Sang Ah.” Aku mengangguk dan keluar bersama ahjuma dari ruang baca. Aku hanya berjalan di belakang ahjuma seperti tadi. Semakin lama aku semakin mendekati asal suara namja itu.

Ah, sepertinya kami sampai. Aku melihat wajah Ahjussi dan ahjuma langsung duduk disebelahnya. Ada satu orang lagi disana. Seorang namja dengan tatapan mata yang tajam dan menusuk memandang kearahku seakan-akan dia sangat benci padaku.

Dialah Siwon, namja yang mengajakku berdansa di private concert super junior.

“Siwon, dia Han Sang Ah. Putri sulung pemilik Han Coal Corp. Yeoja yang pintar. Umurnya masih muda dan dia sudah belajar untuk meneruskan perusahaan ayahnya.”

“Kau berlebihan ahjussi.” Aku jadi malu. Sekali lagi kulirik kearah Siwon dan dia masih menatapku benci.

“Tidak Sang Ah, itu benar. Kau saja yang terlalu rendah hati.”

“Jadi sekarang kalian menyuruhku pulang untuk menjodohkanku dengan cewek ini? Atau ingin membanding-bandingkanku dengannya? Appa masih memaksaku untuk meneruskan perusahaan Appa? Tidak Appa! Lupakan!”

“SIWON!” Ahjussi tampak marah sekali kali ini. Siwon masih saja menatap marah padaku. He? Apa salahku?

**********

Aku dan ahjuma menyingkir darisana. Ahjuma meminta maaf padaku berkali-kali dan aku juga membalas berkali-kali sambil berkata ‘Gwenchana.. Gwenchana (tidak apa-apa)’. Aku bermaksud ke istal melihat koleksi kuda milik keluarga Choi, tapi secara tidak sengaja aku mendengar suara ahjussi dan Siwon berbicara di ruang baca.

“Aku sudah bilang Appa, aku sama sekali tidak berminat pada perusahaanmu itu.”

“Tapi Siwon, yang akan kau urus bukan perusahaanku, tapi perusahaanMU! Aku sudah membicarakan hal ini dengan Go Jung-ssi. Selain berinvestasi di perusahaan Go Jung-ssi, Appa ingin membuat perusahaan baru yang juga menangani soal pertambangan. Sebagian besar sahamnya akan menjadi milikmu.”

“Jadi?”

“Kau sudah bertemu Sang Ah bukan? Dialah penerus Han Coal Corp. Go Jung-ssi juga berpikir sudah waktunya Sang Ah benar-benar belajar memegang penuh sebuah perusahaan. Kau dan Sang Ah, belajarlah bersama.”

“Aku menolak!” Siwon sepertinya sudah mau pergi. Dia berdiri, tapi lagi-lagi ahjussi menahannya.

“Sekali ini saja Siwon, kumohon. Sekali ini saja. Kalau kau memang menolak untuk mengurus perusahaan itu nanti, perusahaan akan tetap jadi milikmu tapi biar aku atau keluarga Han yang mengurusnya. Sekali ini saja, ikutlah denganku besok ke tambang itu langsung. Sebaiknya juga kau mengambil cuti beberapa minggu dari pekerjaanmu sekarang. Banyak yang harus kau pelajari.”

Aku terus mengupig sampai aku tidak sadar kalau Siwon-ssi sudah berdiri tepat dihadapanku. Aku tertangkap basah! Ottokke? (Apa yang harus kulakukan / bagaimana ini?).

Sebenarnya aku tidak berani menatap mukanya langsung, tapi tatapan matanya yang masih tajam seperti tadi seperti magnet yang memaksaku untuk melihatnya. “Selamat, kau berhasil membuat Appa semakin memaksaku untuk memasuki dunia yang tidak kusukai!”

***********

(BERSAMBUNG)

baca lanjutanya disini

About angelaftracta

Author, writer, singer, an adorable girl *hueks* Not only an FF(s) author but also a teenlit(s), romance(s), fantasy, or comedy author.. check out my blog asianfanfictionstory.wordpress.com

One comment on “[FF] Our Joint Business (Han Sang Ah + Choi Siwon) – part 1

  1. Fanfic nya bagus ^^ aku suka. Tp sayangnya pas sang ah tahu kalau siwon anaknya paman choi kurang disampaikan emosinya. Atau malah terlalu datar. Sebaiknya ada percakapan atau kata-kata yang menyampaikan betapa kagetnya sang ah karena ternyata anaknya paman choi itu siwon, dan ia tambah kaget ketika paman choi menyebut2 kalau ia dan siwon akan dipasangkan. ^^ yah sekedar saran si.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: