Leave a comment

FF//today//part 1


Title : Today
Creater : Rhiee CuLes Shawol-boice

Malam yang indah, bintang bertaburan di langit. Aku hnya bisa memandanginya dari sini. Andai saja aku bisa menyentuh bintang-bintang itu.

Aku duduk di kursi santai, di luar kamarku, tepatnya di teras kamarku. Aku sedang terserang virus malas beljar malam ini, virus yang sering menyebar pada anak-anak sekolahan sepertiku.

Ku putar DVD playerku, full volume. Mengalun keras lagu Amigo milik SHINee, takkan ada yang marah, walaupun terdengar hingga ujung penjuru rumah. Karna dirumah hanya ada aku.

Yaaaaa beginilah kehidupanku, sepi. Tapi aku memakluminya, aku tak perlu marah pada hidupku. Toh sampai sekarang aku masih bisa hidup tenang, dan menikmati hidupku yang indah ini.

Setelah lelah memandangi langit, ku tutup pintu teras, dan ku pelankan volume DVD playerku, mungkin hanya terdengar dikamarku saja. Aku sengaja masih menghidupkannya, sebatas sebagai pengantar tidurku.

Ku matikan lampu kamarku,ku coba untuk memejamkan mata yang sudah mulai perih.

“tok tok tok’ terdengar bunyi ketukan pintu dari luar kamarku, ku lihat jam dari ponsel ku, baru pukul 09.05 , tak mungkin amma dan appa sudah pulang dari kantor. Mungkin hanya halusinansiku saja.

Pejamkan mataku lagi, ‘tok tok tok’ bunyi ketukan pintu terdengar lagi, kuhidupkan lampu kamarku, ku coba meyakinkan diri.

‘klek’ ku buka pintu kamarku dengan perlahan.

“oo… appa?? Tumben cepat pulang”
“ke ruang TV yuk, appa ada beliin kamu pizza keju kesukaanmu”
Aku hanya mengikuti langkah appa, kulihat amma sudah menungguku di sofa ruang tengah.

– – – – – % – – – – –

Hari yang sedikit menyedihkan untukku. Hari ini appa dan amma harus pergi ke Canada untuk urusan bisnis. Ternyata pizza keju yang appa bawakan adalah sebuah sogokan untukku. Aku harus menunduk menuruti kemauan mereka.

Dan anehnya lagi, aku harus rela tinggal bersama anak teman mereka yang sama-sama ke Canada selama mereka pergi.

Beginilah nasibku, menjadi anak semata wayang yang harus dijaga. Di kota ini memang tak ada satupun sanak keluarga kami, yang membuatku terpaksa menuruti mereka.

Iya sih kalau dia itu yeoja, tapi nyatanya dia itu namja. Mwo??? Aku tinggal dengan seorang namja??? Dan parahnya, dia itu adalah musuhku di Junghakyo (SMP). Tapi untungnya, sekarang aku sudah Godeunghakyo (SMA) dan tak satu sekolah dengannya.

Jam dinding di ruang TV sudah menunjukan pukul 04.15. aku baru datang dari sekolah.

‘ting tong’ bel rumahku berbunyi. Pasti orang itu, pikirku kesal.
“masuk” ucapku kasar padanya. Yahhh dia tak lain dan tak buka Choi Minhwan.
“hah, ini cib mu?” ujarnya, tak percaya.
“ne” jawabku singkat, ku tinggalkan dia mematung didepan pintu. Berharap dia akan pergi. Ternyata tidak, dia malah mengikuti masuk.
“nae pang odi itchiyo?” Tanyanya kasar.
“mmmm….disitu” tunjukku kesebuah kamar padanya.

– – – – – % – – – – –

“heh malam ini kita makan apa? Aku lapar” ucapnya, menggangguku yang sedang asyik menonton. “heh apa kau tak dengar Jung Haneul?” teriaknya
“heh berisik. Kau masak saja sendiri, memangnya aku babumu” kataku sinis
“hey, apa kau lupa? Bukankah tadi kita sudah berbagi tugas, hah?” katanya, tepat 15 cm disamping telinga kiriku. Yang membuat gendang telingaku terasa pecah.
“ne,ne. kau mau kumasakkan apa?” kataku memalas
“ayam goreng. Awas kalau tidak enak” ancamnya

– – – – – % – – – – –

“masakamu lumayan” responnya

Aku tak menjawab, tetap kuteruskan menyuap nasi dan lauk yang ada dipiringku. Setelah makan ku tinggalkan dia sendiri di meja makan. Aku malas meladeninya.

Karna sedikit bad mood, ku putuskan untuk tidur.

“hey kalau besok kau kesiangan, aku tak akan mengantarmu sekolah!” teriaknya dari luar kamar. Hanya terdengar samar, karna aku sudah sangat mengantuk.

– – – – – % – – – – –

‘ahhhhhhh ssibal’ teriakku dalam hati. Ku baringkan kepalaku diatas meja. Teringat dengan kejadian tadi, minhwan itu memang gila. Aku hampir mati diboncengnya. Bisa-bisanya make motor melebihi Lorenzo atau Pedrosa sekalipun. Kelewatan banget.

“lagi bad mood ya?” sahabatku miyoung mengejutkanku
“ne” jawabku singkat “ miyoung, besok kamu mau nggak jemput aku?” sambungku
“mianhae haneul-aa , aku akhir-akhir ini pergi sekolah bareng appa, kemungkinan besok juga.”

Jawabannya membuatku harus kuat menghadapi minhwan. Huhh Dewi Vortuna, kamu kemana sih????

– – – – – % – – – – –

Beberapa hari ini aku pergi sekolah bareng minhwan, hampir seluruh seantero sekolah tahu kalau aku tiap hari diantar jemput olehnya.

Sebenarnya sih no problem kalau mereka tau, tapi gilanya aku dikatain yeoja cingunya minhwan… akkkkhhhhhhhhhhhhh

“heyyyyy ngelamun aja kerjaan” suara seseorang mengejutkanku
“ehhh kamu hyuk,, bete ni” aduku pada satu-satunya sahabat namja ku di sekolah, eunhyuk.
“waeyo??”
“kamu tau kan minhwan?” tanyaku
“ne, pasti dong. Masa’ aku bisa lupa sama dia. Musuh bebuyutanmu saat Junghakyo(SMP). Akukan selalu satu sekolah denganmu dari Chodeunghakyo (SD). Memangnya ada apa dengannya?”
“dia tinggal denganku sekarang”
“mwo??? Kau jangan bercanda”

– – – – – % – – – – –

“mianhae aku telat jemput” jelas minhwan saat kami diperjalanan
“ne, gwaenchanayo” jawabku lemah
“untuk menebus kesalahanku, hari ini aku akan memasak untukmu” aku tetap lemah mendengarnya, walaupun itu berkaitan dengan masakan. Sejujurnya aku malas masak, jika mendengar orang akan memasakanku biasanya aku sangat senang. Tapi entahlah dengan sekarang, responku biasa saja.

– – – – – % – – – – –

“mwo?? semuanya takkogi (ayam)?” omelku saat melihat hidangan di meja makan
“cobain dulu, jangan ngomel”

Mendengar itu, aku langsung mencoba seluruh masakannya. “eumm,, masakanmu memuaskan” komentarku. Yang menimbulkan senyumannya yang sok cute, cihh pengen ku getok kepalnya.

– – – – – % – – – – –

Ku rebahkan tubuhku ke sofa empuk ruang tengah. Ku otak atik chanel TV, aku berhenti di chanel fav ku. Sekarang sedang diputar movie ‘attack on the pin up boy’.

Dengan seragam sekolah yang masih lengkap, aku memperhatikan dengan seksama movie itu. Tanpa kusadri, chanel TV berpidah dengan sendirinya.

“kyaaaaa kau ini. Aku baru saja nonton, seenaknya mindahin” omelku, seraya mencoba merampas remote dari tangan pengganngu itu,minhwan.
“cih, enak aja. Kemarin kan kamu ku biarin nonton sepuasnya. Hari ini giliranku lagi dong” dia mengomel balik
“enak aja, siapa suruh kamu ngebiarin aku nonton. Hey kembaliin remotenya” teriakku.

Perang antara kami kembali terjadi. Beberapa hari ini aku dan dia tamapak terlihat akur, tapi untuk sekarang, NO.

“aniooo” teriaknya tak kalah kerasnya denganku.

Akhirnya kau mengalah. Aku ke kamar mengganti pakaian. Dan kemudian kembali lagi ke ruang TV, berharap dia bosan dengan acara TV jam segini.

‘ting tong’ baru saja aku mendudukkan tubuhku ke sofa, suara bel rumahku berbunyi.

“buka pintu gih” perintahku pada minhwan
“tak perlu kau suruhpun aku sudah tahu sendiri. Dasar yeoja malas.” Ejeknya seraya melepaskan remote dari tangannya.

Dengan cepat ku ambil remote itu, dan ku pindahkan ke movie ‘attack on the pin up boy’. Tak ku perdulikan siapa yang datang.

“annyeong haseo yeoppo” seorang namja bertubuh tinggi, berponi hingga menutupi sebelah matanya duduk disamping kiriku, yang membuatku terkejut.
“nugu yeyo?” tanyaku sinis. Berani-beraninya duduk menyandar disampingku, omelku dalam hati.
“annyeong haseo” lagi-lagi seorang namja datang kearahku, duduk tenang disamping kananku. Namja ini berwajah sedikit lebih putih dibanding yang tadi.
“dangshin , dangshin, nugu yeyo?” aku bingung,

Minhwan senyum-senyum menatap kearahku, ternyata sekarang sudah ada 4 namja disini, 5 jika minhwan dihitung.

“seunghun imnida” kata namja yang berponi hingga menutupi sebelah matanya.
“hongki imnida” kata namja yang berada di sebelah kananku.
“jaejin imnida” kata namja dikanan minhwan
“jonghun imnida” kata namja dikiri minhwan
“aaaaaaa haneul imnida” kataku
“mau ikut kami?” kata hongki
“ikut?? Odiro?” aku bingung
“sudah ikut saja” kata minhwan seraya menarik tanganku.

– – – – – % – – – – –

Kulihat jonghun memetik gitar dengan sangat menjiwai, begitu juga dengan seunghun dengan gitarnya, jaejin dengan bassnya, dan minhwan dengan drumnya. Hongki dengan suara khasnya yang keren.

Lagu ‘treasure’ mengalun merdu dibawakan oleh mereka. Cool.

“rul mworago haeyo? Apa band kami bagus?” Tanya hongki sesaat setelah selesai.
“eummmm” aku menunjukan dua jempolku padanya.
“kau mau menyanyi? Nanti kami iringi” perkataan minhwan sontak membuat nafasku terengah.
“mwo?” kataku tak percaya.
“bukankah suaramu bagus” kata seunghun sok tau.
‘mmmmm…. O ya, sekarang sudah larut, sebaiknya kita pulang saja. Besokkan harus sekolah” hah, untung aku punya alasan untuk menghindari ini.

– – – – – % – – – – –

“udah lama nunggu?” Tanya jaejin yang baru saja datang sambil membuka helmnya padaku. Hari ini minhwan bilang dia tak bisa menjemputku, jadi dia menyuruh jaejin yang menjemputku. Ahhh dasar, bukan kah aku bisa pulang sendiri?? Nggak perlu dijemput segala.
“lumayan” jawabku. “ miyoung aku duluan ya” ucapku pada miyoung yang berdiri tegak di gerbang sekolah, aku memandangi wajahnya dengan seksama. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi padanya.

– – – – – % – – – – –

“heh komik ku mana?” minhwan datang tiba-tiba, dia mengejutkanku sampai tersedak.
“aahhhh, kau tahukan aku sedang makan?” aku kemudian mendehem membetulkan kerongkonganku yang kemasukan nasi bulat-bulat.
“mianhae, jeongmal. Aku lagi laper ni, aku makan yah”
“makan aja, komik kamu di meja belajarku, ambil aja disana”

– – – – – % – – – – –

“annyeonghaseo haneul” miyoung menyapaku seraya melambai-lambaikan tangannya
“annyeong haseo yeoppo” jawabku sambil mengembangkan senyum kearahnya
“hehehe, namja yang jemput kamu kemarin beda ya sama yang biasa jemput kamu?” miyoung duduk manis dibangkunya, tepatnya di sebelah kananku.
“ehmmm ehmmm waeyo?” aku tersenyum
“hehe” dia nyengir
“kamu suka? Mau nomer ponselnya?” tawarku
“mmm,, ne “
“jeongmal?”
“ne, jeongmal” dia kembali nyengir.

– – – – – % – – – – –

“haneul, miyoung itu temanmu?” Tanya hongki padaku, saat dia datang ke rumahku
“ne, waeyo? Kamu tau dari mana?” aku bingung
“oh,,, eee dari jaejin. Kata jaejin dia yeoja yang manis. Aku jadi penasaran sama dia”
“jiahhh kamu telat, miyoung itu suka sama jaejin”
“jeongmal?? Yahhh telat” hongki melemas. “ kalo gitu aku sama kamu aja deh” dia nyengir kuda
“mwo? Mworago hasyotchiyo? (apa katamu?). andwae jangan pernah mencoba mendekatinya, dia milikku” minhwan datang entah darimana, baru muncul langsung mengancam, sembari menjitak kepala hongki.
“mwo? Mworago hasyotchiyo?” aku marah pada minhwan, dasar gila, memangnya aku siapanya? Cihh,,,, ku tinggalkan mereka berdua.

– – – – – % – – – – –

Dari sejak pelajaran pertama, aku memperhatikan miyoung, dia terlihat sering senyam-senyum sendiri.

“hey, waeyo miyoung-aa ?” tanyaku
“aa… hehehe,, gomawo haneul-aa”
“wae?”
“berkatmu, sekarang aku menjadi yeoja cingunya jaejin”
“mwo? Jeongmal?”
“ne, jeongmal gomawoyeo haneul-aa” dia memelukku erat
“ne, cheonmaneyo” jawabku lembut.

Enaknya jadi miyoung, bisa punya pacarr. Hahhh aku?? Suka sama orang aja jarang, apalagi punya pacar. Hahahaha.

– – – – – % – – – – –

Ku buka mataku, masih terasa perih. Terdengar ditelingaku suara keributan dari luar kamarku. Kulihat jam weker kamarku menunjukan pukul 4.50 . hari ini aku pulang lebih awal dari biasanya, makanya sempat tidur siang.

Dari jendela kamar, tampak mega merah matahari, ku coba untuk keluar kamar. Memastikan apa yang terjadi.

”MINHWAAAAANNNNNN” teriakku dari depan pintu kamar.

Mungkin suaraku terdengar nyaring, karna tadi sebelum aku berteriak ributnya seperti seluruh murid di sekolahku mendengar berita libur sekolah dan sekarang keadaannya menjadi sangat senyap. Seperti keadaan saat UAS berlangsung.

Minhwan datang menghampiri sumber suara teriakan, ya suaraku.

“waeyo? Kau membuat cingudeul ku cemas tau nggak?” dengan mata melotot dia mengomel padaku
“hah, yang seharusnya marah itu aku. Bukan kamu” aku tak kalah melototnya dibanding dia. “mana cingudeulmu itu hah? Aku mau bicara dengan mereka” aku tak ragu menuju ruang tengah yang berkisar 5 meter dari kamarku.
“odi kaseyo? (kamu mau kemana?)” minhwan mencegatku
“apa urusanmu?” ku lepaskan dengan paksa kedua tangannya yang memegang bahuku. Minhwan mendorongku masuk ke kamarku, sekarang aku tersandar didinding berwarna biru terang kamarku. Minhwan tak mau melepaskan tangannya dari bahuku, malah sekarang tangannya mendorongku lebih keras lagi, hingga terasa tubuhku menempel ke dinding.
“heh kau ini kenapa? Apa yang kau lakukan dirumahku hah” aku masih membentak minhwan
“coba dengarkan aku dulu, jangan membentakku. Aku paling benci dibentak” suaranya lebih keras dan nyaring dari yang ku bayangkan.

Aku tersentak, badanku melemas seketika. Tak terasa sekarang badanku sudah terduduk dilantai. Ku rasakan suhu disekitarku seperti 0o. Detak jantungku melemah, aku lemas sekarang, sangat lemas. Hingga dunia terasa remang. Lama kelamaan gelap.

– – – – – % – – – – –

Aku terdiam dikamarku sendirian. Hari ini aku nggak masuk sekolah, ya karna kejadian kemarin.

Aku terdiam menatap jauh ke langit-langit kamarku.

‘tok tok tok’ pintu kamarku terdengar seperti di ketok, tapi nugu? Hah tak ku perdulikan, mungkin hantu yang dengan sengaja mengusikku. Pikirku aneh.

‘klek’ pintu kamarku terbuka

“badanmu masih panas?” sesosok namja yang hari ini terlihat lebih keren dengan seragam putih berompikan rompi motif kotak-kotak warna biru muda muncul dari balik pintu.
“dangshin? Wae kau kesini? Kau nggak sekolah?” tanyaku dengan tampang jengkel
“lagi males di sekolah, jadi aku pulang aja” katanya dengan tampang bangga
“cihhh” kataku sinis
“aku duduk ya!” dia sekarang duduk di tempat tidurku, persis di smping kananu. Dengan mudahnya, dielusnya rambut sebahuku yang lurus.
“heh apa-apaan kau” kataku marah sekaligus melepaskan tangannya yang seenaknya mengelus rambut hitaku.
“ne, ne” dia kemudian berdiri dari tempat tidurku.
“odi kaseyo?” tanyaku
“terserah aku dong, kau diperlakukan baik tak mau, sekarang aku mau pergi malah…….” Dia berhenti berkata
“malah apa?” tanyaku penasaran
“ah,,, anioo. Aku mau membuatkanmu insam cha (teh ginseng). Boleh?”
“terserah kaulah. Eh sebenarnya kenapa sih cingudeulmu kemarin rebut-ribut”
“itu dia yang mau kujelaskan” langkahnya terhenti. Dia kembali duduk disampingku “kemarin itu, aku dan cingududeulku mengerjakan tugas kelompok, karna selisih pendapat kita jadi… ya sedikit bertengkar gitu. Dan kemudian kau berteriak yang membuat ..” dia berhenti berbicara, karna mulutnya telah kubungkam dengan tanganku.
“sudah, sudah . buatkan aky\u insam cha, gih” ucapku memerintah.

– – – – – % – – – – –

Malam ini tepat sebulan kami bersama, dan kesekian kalinya aku dan dia akur. Ntah sedang kena angin apa. Ku biarkan dia memilih acara TV, aku sibuk dengan majalah yang baru kubeli tadi siang. Dia sibuk memperhatikan adegan-peradegan di film yang ditontonnya.

‘ting tong’ bel rumahku berbunyi, spontan aku dan minhwan saling memandang.
“buka yuk” ajakku. Dia hanya menganggukan kepala memberi respon padaku.

“amma, appa” ucapku dan minhwan serempak saat melihat tamu yang datang.
“aa,, ne” jawab ammaku
“eh kita nggak diajak masuk nih” ajushi mengejutkatku dan minhwan yang masih bengong dengan kedatangan mereka.
“a…chebal ajushi” kataku

– – – – – % – – – – –

Hari-hariku seperti biasa terulang kembali. Tak ada cingu dirumah, minhwan sudah pulang bersama amma dan appanya tadi malam.

Aku mengoles selai kacang di roti, achim bersama amma dan appa, ini yang ku rindukan.

“annyeong haseo” terdengar suara yang tak asing lagi bagiku. Ku arahkan kepalaku ke sumber suara.
“minhwan” kata amma
“annyeong haseo, ajushi, ahjuma” katanya sok manis
“kamu mau jempu haneul” kata appa, yang membuatku berhenti mengunyah makanan.
“mwo?” kataku
“ne” jawab minhwan dengan senyum manis yang baru kali ini kulihat yang termanis dari senyum-senyumnya yang pernah ia perlihatkan.

– – – – – % – – – – –

Aku berdiri di depan pintu gerbang sekolah. Berharap taxi cepat datang. Perutku sudah keroncongan. Kulihat jam tanganku sudah menunjukan pukul 6.25 . waktu makan malam ku sudah tiba.

“sudah lama menunggu?” suara seseorang yang baru saja memberhentikan motor besarnya dihadapanku. Ku pandangi orang itu dengan pandangan tak percaya.
“minhwan?”
“kajja”

– – – – – % – – – – –

“wae kau menjemputku?” tanyaku sambil menatap minhwan yang asyik memilih menu makanan yang akan dipesannya.
“aku mau mentraktirmu” jawabnya singkat.
Aku hanya memendangnya kesal. Kesal dengan penuh rasa penasaran, tapi juga kagum. Bukan kagum sama minhwan, tapi tempat ini. Sangat indah, kami berada diatas sebuah danau, dari sini aku bisa puas melihat matahari terbenam, walaupun sebagian matahari sudah tenggelam.

– – – – – % – – – – –

“sudah kenyang?” tanyanya
“ne, pulang yuk” ajakku
“aku boleh pinjam tanagnmu?” pintanya
“wae?”aku bingung
“pinjam aja”
Aku munjulurkan kedua tanganku padanya, spontan dia menggenggam tanganku dan meletakkannya diatas meja.
“wae minhwan-aa?” aku tambah bingung
“mmmmm” mimik wajah minhwan berubah seketika, tampak keseriusan terpancar dari matanya. Ditatapnya mataku lekat.
“saranghae haneul-aa. Maukah kau menjadi yeoja cinguku?”

– – – – – % – – – – –

Malam ini hujan deras sekali, angin malam menusuk ku hingga sum sum tulang. Ku tutup jendela kamarku rapat-rapat. Ku selimuti tubuhku dengan jaket tebal. Karna dingin aku tak sanggup menahan kantuk, ku baringkan tubuhku perlahan keatas ranjang.
Pikiranku sebenarnya sedang kacau sekarang, minhwan membuatku kacau. Kenapa dia bisa suka padaku???

– – – – – % – – – – –

Drrrttttt drrrrtttttt, ponselku bergetar. Kulihat LCD ponselku berkelap kelip setiap 5 detik. Tertulis ‘minhwan’ disana. Dengan mata yang terasa remang-remang ku angkat telpon darinya.

“yeoboseo” sapaku
“yeoboseo haneul-aa. Bisakah kau membukakan aku pintu?” jawab minhwan dengan suara bergetar
“mwo? Maksudmu?” aku bingung
“aku kehujanan, aku sekarang didepan rumahmu”

Spontan aku bangun dari temapt tidurku.

‘klek’ kubuka pintu. Aku tercengang. ku lihat minhwan sudah pucat pasi menekuk dan memeluk kedua kakinya di teras rumahku.

“minhwan?” aku masih tercengang tak percaya
Dia hanya menganggukan kepalanya. Ku papah tubuhnya yang basah kuyup. Ku ambil handuk dan segelas air hangat untuknya.

Tanpa pikir panjang, ku buka t-shirt biru yang dia kenakan. Dan menggantinya dengan jaket tebal yang ku kenakan. Ku kompres dahinya, ku perhatikan wajahnya ternyata dari hidungnya mengalir darah segar.

“waeyo minhwan-aa?” teriakku dalam hati.

– – – – – % – – – – –

Ambulance yang membawa minhwan telah pergi. Sekarang di depan ruang UGD hanya da aku yang menunggu minhwan. Ku harap minhwan tak kenapa-napa.

“euisa, bagaimana keadaan minhwan?” tanayku mengintrogasi euisa yang baru keluar dari ruangan . huh setengah jam aku menunggu , kenapa baru keluar sekarang. Keluhku dalam hati.

“mmm bolehkah saya tahu, apa hubungan anda dengan dia?”
“saya cigunya”
“cingu?? Bukan yeoja cingunya?”
“eummm ne”
“kajja ikut saya keruangan”

– – – – – % – – – – –

Aku tertunduk lesumelihat keadaan minhwan di ruang ICU. Kata euisa dia menjadi korbn tabrak lari, dan dia mengalami benturan keras disekitar kepalanya, yang menyebabkan penyakit yang dialaminya berkembang pesat dan semakin parah.

Entah penyakit apa yang dideritanya aku tak tahu.

“ha..haneul” minhwan terbangun
“kau sudah sadar” spontan aku menepuk-nepuk kedua pipiku, memastikan ini nyata atau mimnpi
“amma appa mana?”
“sebentar lagi mereka datang, bersabarlah” hiburku

– – – – – % – – – – –

Terdengar isak tangis amma minhwan, di depan ruang ICU. Aku tak berani memendangi wajahnya, yang begitu terpukul.

‘kanker otak minhwan berkembang pesat’ ucapan ahjuma saat keluar dari ruangan euisa itu masih terngiang di kepalaku sampai sekarang.

Ku coba untuk menahan tangis, kenapa selam ini aku tak tahu minhwan menderita kanker?? Tak ada satupun yang memberitahukan hal itu padaku. Jahhaaattttt….

– – – – – % – – – – –

“annyeong haseo” sapaku pada minhwan yang terbaring lesu.
“annyeong haseo” jawabnya sambil mengembangkan senyum “haneul-aa” sambungnya
“wae?”
“mau kah kau menjadi yeoja cinguku?” pertanyaan itu di ulangnya lagi
“mmmmm ne” aku menggaruk-garuk kepala
“gomawo” di kembali tersenyum manis padaku

Sekarang wajah minhwan kembali berseri, walaupun aku tahu ini berat untuknya. Aku berjanji akan berusaha semampuku membuat dia bahagia, aku berharap tuhan memberikan umur yang panjang untuknya. Dewi Vortuna berpihaklah padanya.

– – – – – % – – – – –

Beberapa hari ini aku selalu menemani minhwan sepulang sekolah, untungnya sekarang jadwalku pulang sekolah sudah berubah. Pukul 4.45 , hahaha sekolahku memang baik.

“chagi maukah kau mengupaskan jeruk ini untukku?” pinta minhwan saat kami sedang bersantai di taman di komplek rumah sakit di suatu sore.
Aku hanya membalas ucapannya dengan senyuman, seraya meraih jeruk yang ada ditangannya.

Jeruk dengan kulit yang sudah kukupas ku serahkan pada minhwan. Aku tak tega melihatnya lesu seperti ini, wajahnya sudah mulai pucat lagi.

“chagi, kita masuk yuk.” Ajaknya.
Aku kembali embalasnya dengan senyuman, kemudian mendorong kursi rodanya menuju kamar tempatnya dirawat.

“chagi, waeyo? Kenapa kamu diam terus?”
“a.. anio chagi, gwaenchanayo” aku kembali tersenyum, sebenarnya aku ingin bisa memulihkan minhwan seperti dulu lagi, tapi apa dayaku.

– – – – – % – – – – –

Aku duduk tenang sambil menatap langit-langit, sesekali kualihkan pandanganku kearah minhwan yang sekarang tertidur pulas setelah kami jalan-jalan di taman tadi.
Ku pindahkan kursiku mendekat ke tempat tidur minhwan. Ku pandangi wajahnya. Baru kusadari seberapa tampannya namja cinguku ini.

Bermata indah, bibir yang sexy, berambut hitam berkilau. Tak dapat ku ungkapkan dengan kata-kata. Manis sekali.

Ku genggam tangannya, ku tundukkan kepalaku, aku menyesal terlambat menjadi belahan hatinya. Kenapa rasa ini baru datang sekarang?? Bukan kemarin??
Tanpa terasa air mata ku menetes membasahi pipiku dan menetes hingga ketangannya.

“chagi, gwaenchanayo?” suara minhwan mengagetkanku.
“a..anio chagi” ku usap air mataku.
“kamu nangis?” dia menatapku sembari mendudukkan tubuhnya “jangan bohong” sambungnya.
“a…anio” ucapku seraya tersenyum. Senyumku membuatnya ikut tersenyum juga.
“chagi bisakah kau ambilkan aku kotak berwarna biru itu?” dia menunjuk ke sebuah kotak kecil yang terletak diatas meja disalah satu sudut ruangan.
“ne chagi” aku bangkit dari tempat dudukku mengambil kotak itu. Kemudian kuberikan kotak itu pada minhwan dan kembali ke posisiku semula.

Dia membuka kotak biru itu, yang berukuran kurang lebih 6×6 cm. ditariknya lembut tanganku yang dari tadi kugenggam erat satu sama lain.

“waeyo chagi?” tanyaku
“maukah kau menerima ini?” dia memberikanku sebuah kalung berpermatakan huruf H yang sangat indah, yang diambilnya dari dari kotak biru tadi.

Ku peluk dia erat-erat.
“ne chagi, saranghae” kataku
“nado saranghae chagi” balasnya tak kalah lembut.

– – – – – % – – – – –

Air mataku tak henti mengalir. Aku tak bisa lagi menahannya sekarang.

Sekarang aku baru sadar, seberapa besar cintaku pada minhwan.

Dia yang dulunya adalah musuhku, kemudian berubah menjadi teman, kemudian menjadi sahabat, dan menjadi pacar.

Dia pacar pertamaku, orang pertama selain orang tua yang sangat aku sayangi.

Tapi sekarang, sekarang dia telah tiada. Meninggalakanku, orang tuanya, teman-temannya, dan hidupnya.

Aku teringat lagi disaat diamana aku berjumap dengannya pertama kali, disaat aku harus tinggal bersamanya, saat dia memasakanku makanan special.

Aku tertunduk lesu, dengan kaki yang terasa tak lagi dapat ku gerakkan, dengan tangan yang sudah terasa lumpuh. Aku tertunduk didepan nisan yang bertuliskan ‘Choi Minhwan’.

Tak mampu ku mengingat segala yang pernah ku jalani bersamanya.

Tapi aku sedikit meras beruntung. Karana aku menjadi salah satu manusia yang pernah mengisi hidupnya. Yang pernah sempat mengisi hatinya.

Bayangannya muncul begitu saja dihadapanku, seolah memberikan isyarat akan kepergiannya.

Memberikan isyaran cintanya yang takkan pernah hilang untukku.

Bayangan yang akan ku kenang dan takkan ku lupakan selamanya.

Namun bayangan itu lama kelamaan memudar dan menghilang diterpa angina.

Aku berjanji akan selalu menjaga kemurnian cinta yang pernah kau curahkan untukku.
Aku berjanji sampai akhir hidupku, hingga aku dipanggil tuhan mengikutimu ke surga.
Dan kau, minhwan. Kau juga harus berjanji padaku, akan menjemputku nanti di pintu surga.

“SARANGHAE YONGWONHI CHAGI”
=jung haneul=

About tariee

i love k-pop, k-drama, world football, and more.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: