4 Comments

The Assassin (Chapter 2)


Title : The Assassin

Author: Astyujong (Asty A)

Rating: PG-13😀 *ratingnya turun untuk episode ini*

Genre: Angst (tapi ada tambahan Romance nya sekarang)

Length: Short Story

Casts : SS501’s Kim Hyunjoong, Kim Kyujong;Kim Junri (OC)

Cameo : SS501’s Park Jungmin

A.N : Hem.. Reader.. Maaf ya.. chapter kali ini gak begitu sadis dan serem, malah banyakan basa-basinya. Hehe tapi basa-basi itu ada artinya kok😉 haha

~~~

Pisau itu semakin dekat ke arah leherku.

Aku tak berkutik, aku hanya bisa merasakan degup jantungku yang berpacu kencang. Kutatap wajah si pembunuh itu sekali lagi, tapi.. Hey.. dia tidak mirip dengan pembunuh delapan tahun lalu itu. Ah, mikir apa aku ini. Sempat-sempatnya berpikir seperti itu. Mungkin saja aku sudah lupa dengan wajahnya, jelas saja. Itu terjadi delapan tahun yang lalu!

Tapi.. Biarkan saja. Biarkan saja si pembunuh ini mengoyak perutku atau memecahkan kepalaku. Toh hidup tak ada artinya lagi bagiku sekarang. Tak ada lagi mereka berempat. Sudah kubilang itu sama saja artinya dengan mati.

Aku menelan ludahku dengan berat, lalu memejamkan kedua mataku.

“Lakukanlah sekarang..” kataku pasrah.

“Eh?”

“Lakukanlah.. Asalkan kau berjanji akan menguburkan mayatku nanti di samping keempat anggota keluargaku..”

Hening.

“B-Baiklah kalau begitu.. Ehm..”

Kurasakan berat yang tadi menindih tubuhku mulai berkurang. Sepertinya namja itu sudah bangkit dan berpindah posisi.

Kutunggu. Akan kutunggu kematianku. Akan kunikmati tiap senti pisau yang mengoyak leherku, akan kunikmati tiap tetesan darah yang bermuncratan keluar, akan kunikmati tiap hembusan nafas terakhirku. Mungkin akan terasa sangat sakit. Tapi aku tak peduli. Toh setelah ini aku akan segera berkumpul kembali dengan keluargaku.

“Ada apa denganmu? Kenapa kau tak segera membunuhku? Ayolah.. Aku ingin yang cepat saja. Aku sudah bosan hidup..”

Hening lagi. Huhh.. Ada apa dengan namja ini? Apa dia ingin berbasa-basi lagi? Memuakkan.

Perlahan kubuka kelopak mataku yang berat. Silau. Aku bisa melihat sinar matahari langsung menerpa wajahku. Aku bangkit dan duduk lalu menutup mataku dengan tangan. Tadi mungkin karena tertutup oleh namja itu aku tak merasakan teriknya matahari siang ini.

Tunggu dulu..

Kemana namja itu? Aku berdiri lalu melihat sekeliling. Tidak ada. Dia tidak ada dimana-mana. Kemana dia? Apa dia mengurungkan niatnya karena tak memiliki uang untuk membeli tanah pemakaman yang sederet dengan keluargaku? Tidak.. Tidak. Alasan yang konyol.

Tapi tidak mungkin dia menyia-nyiakan kesempatannya untuk membunuhku yang bisa dibilang lumayan langka ini. Aku tidak pernah keluar dari panti asuhan seorang diri. Tak pernah sekalipun.

Tapi.. Kenapa perasaanku tidak enak seperti ini, ya? Lebih baik aku pulang saja.

~~~

Bau apa ini? Rasanya aku pernah mencium bau seperti ini, namun sudah sangat lama. Bau ini seperti besi berkarat. Anyir..

Langkahku semakin cepat setelah aku mencium bau itu dari depan pagar panti asuhan. Sudah pasti ini ada apa-apa. Aku berjalan masuk ke dalam gedung panti asuhan, mendengus bau itu yang terasa sangat kuat.

“AAAAAAAAH!” teriakku kala melihat sesosok tubuh tergeletak bersimbah darah di salah satu koridor panti asuhan. Dia adalah kepala panti asuhan.

Aku terduduk lemas. Barulah kusadari bau apa itu. Bau darah. Bau darah segar yang beberapa tahun lalu kucium dari tubuh oppaku. Aku tak sanggup. Kepalaku terasa sangat pusing, dan semuanya tiba-tiba menjadi gelap.

~~~

Kurasakan kehangatan menjalar di sekujur tubuhku.

Hangat dan lembut. Rasanya seperti selimut berbulu yang tebal.

“Kau sudah sadar?”

Mataku langsung terbuka seketika setelah mendengar suara lembut itu. Aku menemukan seorang namja tengah duduk di dekatku dan menatapku hangat. Ah, namja ini. Rasanya aku pernah melihatnya. Tapi dimana?

“S-Siapa kau?” tanyaku takut.

Namja itu tersenyum hangat, lalu menjulurkan tangannya.

“Kim Kyujong imnida. Aku tadi lewat di depan panti asuhanmu, tapi mendengar teriakanmu. Aku langsung masuk dan menemukan kau pingsan di depan mayat..”

“..jangan sebut soal mayat lagi! Aku tak mau mendengarnya! Menjauhlah dariku!” Aku terisak, lalu memeluk kedua kakiku.

“Hey, tenanglah.. Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu. Sekarang kau ada di rumahku, kebetulan dekat dari panti asuhanmu. Setelah ini aku akan mengantarkanmu kembali kesana..”

“Tidak!” pekikku. “Aku tidak mau kembali kesana lagi! Pembunuh itu mengincarku! Pembunuh bernama Kim Hyunjoong itu mengincarku!”

“Pembunuh? Maksudmu?” namja itu tampak kaget.

“Pembunuh.. Dia pembunuh. Pembunuh yang menghabisi keluargaku delapan tahun lalu, dan tadi hampir saja membunuhku di pemakaman. Aku tak tahu kenapa dia tidak langsung membunuhku tadi, malah membunuh kepala panti asuhan. Aku tak mau, aku tak mau!”

“Delapan tahun lalu?” tatapan namja itu menerawang, agaknya ia sedang memikirkan sesuatu. “Apa kau Kim Junri, adik dari Kim Hyungjun yang dibantai—maksudku dibunuh delapan tahun lalu?”

Aku menatapnya. Darimana ia bisa tahu? Aku mengangguk.

“Akhirnya aku menemukanmu! Sudah lama aku mencari-carimu!”

~~~

“Jadi.. Kau adalah teman dekat Hyungjun oppa?” tanyaku setelah mendengar ceritanya tadi, pantas aku merasa pernah melihatnya.

“Ne..” namja itu tersenyum lagi.

Gila. Kenapa namja ini suka sekali tersenyum? Dan entah bagaimana, sialnya.. Aku merasa senang melihat senyumannya.

“Oh iya, kau sudah makan?” tanya namja itu.

“Err.. Sudah.” Dustaku.

Kruuuk..

Perut sialan. Kenapa perut ini berbunyi keras?

Kyujong oppa—aku bosan memanggilnya dengan sebutan “namja itu”—tersenyum lalu berjalan ke arah sebuah tempat yang kuduga adalah dapurnya. Semoga saja dia membuatkanku makanan.

Kuamati sekelilingku. Rumah ini tidak terlalu besar, namun rapi. Aku menyibakkan selimut tebal yang tadi menutupi tubuhku, lalu berjalan menuju sebuah meja dimana terdapat beberapa bingkai foto. Kuamati satu persatu foto itu.

Tatapanku terhenti pada sebuah foto. Kuambil bingkai itu dan kuamati fotonya. Foto keluarga. Seorang yeoja dewasa, seorang namja dewasa, seorang bocah lelaki kecil, dan seorang lagi bocah perempuan yang mungkin masih sekitar dua atau tiga tahun. Ah, anak itu lucu sekali.

“Lucu, bukan?”

Aku menoleh hingga hampir menjatuhkan bingkai itu dari genggamanku.

“Eh?”

Kyujong oppa tersenyum lalu berjalan mendekat ke arahku. Kuperhatikan pakaiannya berubah.

“Itu aku..” ujarnya sambil menunjuk bocah lelaki kecil yang ada di foto itu. “Dan ini Eomma, Appa dan.. Eunah.”

“Eunah?”

“Iya, dia adalah dongsaeng satu-satunya yang kumiliki. Saat itu dia berusia tiga tahun.”

Tap. Benar sekali dugaanku.

“Kemana Eunah eonni sekarang?” tanyaku.

Kyujong oppa menunduk.

“Mereka bertiga.. Sudah tidak ada lagi di dunia ini.”

Deg. Ternyata oppa ini sebatang kara juga, sama sepertiku.

“Jangan sedih, oppa…” ujarku, berusaha agar terdengar menghibur. “Aku juga sebatang kara, sama sepertimu.”

Kyujong oppa tersenyum lalu mengangguk.

“Oh iya, di rumahku tidak ada makanan. Jadi.. hmm.. bagaimana kalau kita makan diluar saja? Aku tahu tempat makan yang enak. Bagaimana?”

Aku berpikir sejenak, lalu mengangguk.

“Kaja..”

Aku dan dia sama-sama keluar dari pekarangan rumahnya yang sederhana. Mataku tertuju pada sebuah mobil yang terparkir di depan rumah Kyujong oppa. Namun mobil itu perlahan melesat menjauh.

“Ada apa?” tanya Kyujong oppa.

“Ah.. Tidak. Tidak kenapa-napa.”

“Eh iya, aku tidak punya mobil. Kalau kita jalan saja bagaimana?”

Aku mengangguk lagi. Kalau aku menolak bagaimana? Aku benar-benar lapar.

“Eh, sebentar ya. Aku mengunci pintu dulu..”

Kyujong oppa kembali ke depan pintunya lalu menguncinya dan segera kembali padaku.

“Nah, sekarang ayo lekas kita pergi.”

Kami berdua lalu berjalan menyusuri jalanan yang sempit dan sepi. Dingin. Musim dingin sudah memasuki pertengahan, pantas saja. Aku menggosokkan kedua telapak tanganku.

Kami terus berjalan dalam diam selama kira-kira hampir dua puluh menit. Hmm.. Namja ini pendiam sekali.

Tik.

Aku merasakan titik-titik dingin jatuh mengenai kepalaku.

“Ah, salju!” seruku.

Kyujong oppa melihat ke langit lalu tersenyum.

“Iya, salju. Kau suka salju?”

“Hmm.. Tidak..”

Kyujong oppa mengangguk mengerti. Ia lalu menarik lepas syalnya dan mengalungkannya di leherku. Aku mengernyit heran.

“Nanti kau kedinginan. Kau tidak memakai syal, pakai saja punyaku. Oh iya, sudah hampir sampai. Kaja..”

Kyujong oppa menarik tanganku lalu membawaku berjalan semakin cepat dan memasuki sebuah kedai bibimbap sederhana yang ada di pinggir jalan. Ia mendudukkanku di sebuah kursi dan iapun duduk di hadapanku.

“Bibimbap disini enak sekali..” ujar Kyujong oppa sambil mengacungkan kedua jempol tangannya.

Aku mengangguk paham.

“Ya sudah. Ahjusshi, aku pesan bibimbap dua dan teh hangatnya dua ya?”

Aku menggosok kedua telapak tanganku lagi, lalu mengamati sekelilingku.

“Sekarang umurmu enam belas, kan?”

Aku mengangguk. Kyujong oppa lalu diam lagi.

Beberapa lama kemudian si ahjusshi meletakkan dua buah mangkuk berisi bibimbap di hadapan kami, lalu dua gelas teh hangat. Kyujong oppa tersenyum pada ahjusshi itu.

“Makanlah. Aku yang traktir.”

Aku mengangguk lalu mulai menyantap bibimbap itu. Benar, enak sekali. Sudah lama aku tidak makan bibimbap. Kyujong oppa baik sekali. Terlalu baik malah.

“Kamsahamnida..” ujarku.

“Ne, cheonmaneyo. Lalu.. Katamu kau tak mau tinggal di panti asuhan itu lagi, kan? Lalu kau akan tinggal dimana?”

Aku mengangkat kedua bahuku sambil terus mengunyah. Benar juga. Mau tinggal dimana aku? Aku sebatang kara. Lalu dimana aku harus tinggal?

“Entahlah. Mungkin di kontrakan. Aku akan bekerja untuk membayarnya.”

Mata Kyujong oppa membulat.

“Mwo? Bekerja? Apa kau yakin?”

Aku mengangkat bahuku lagi. Aku tak tahu apa yang bisa aku kerjakan.

“Kau tinggal di rumahku saja untuk sementara. Bagaimana?”

Aku terbatuk-batuk. Kyujong oppa menyodorkan teh hangat padaku. Aku menyesapnya cepat.

“Tinggal.. Dirumahmu?”

Kyujong oppa mengangguk mantap.

“Kenapa? Kau adalah dongsaeng Hyungjun, kan? Dulu Hyungjun sering membantuku. Mungkin sekaranglah saatnya aku membalas segala kebaikannya. Setuju?”

Aku berpikir sejenak. Apa salahnya? Lagipula sepertinya Kyujong oppa adalah orang baik-baik.

“Tapi aku tak mungkin tinggal berdua denganmu dalam satu atap, kan? Tidak usah, kamsahamnida. Aku bisa mengontrak saja.”

“Hmm.. Ya sudahlah kalau begitu. Tapi untuk hari ini saja, bagaimana? Kau mau kemana sore-sore begini?”

Aku berpikir lagi, lalu akhirnya mengangguk. Kyujong oppa tersenyum untuk yang entah keberapa kalinya. Kali ini kubalas senyumnya sungkan.

~~~

“Kau tunggu disini sebentar, ya.. Aku ganti baju dulu. Nanti aku akan bercerita banyak tentangmu soal aku dan oppamu dulu.”

Aku mengangguk, dan Kyujong oppa berlalu ke dalam kamarnya. Ah, dingin. Kyujong oppa lupa menghidupkan pemanas ruangan.

Bagaimana ini? Bisa-bisa aku membeku.

Aku berjalan menuju pemanas ruangan, awalnya ingin menekan tombol switch namun kuurungkan niatku. Memangnya ini rumahku? Seenaknya saja aku memegang barang orang lain. Sebaiknya kutanya saja dulu padanya.

Aku berjalan ke arah kamarnya. Kukepalkan tanganku di depan pintunya, namun kulihat celah pintu. Tidak ditutup rupanya. Berarti dia sudah selesai berganti baju. Kudorong pintunya perlahan.

“Oppa.. Aku..”

Astaga!

To be continued

About azuhra

Hi... :) I'm just a little girl in a big world. I'm Indonesian. Nice to meet you all. I heart you all. Oh, i forget it, i'm moslem. and i'm not a terorist!!! there's no moslem is terorist. terorists aren't moslem. ^^

4 comments on “The Assassin (Chapter 2)

  1. […] This post was mentioned on Twitter by -Ria Vinola 'minoz'-, Korean Loverz Indo. Korean Loverz Indo said: The Assassin (Chapter 2) http://goo.gl/fb/6Zc4N […]

  2. Seru seru !!
    lanjutannya donk !
    penasaran sumpah !! haha
    keren buat authornya !

  3. kyaaa. gue suka ceritanyaaaa. lanjutin lagi! penasaran!

  4. bagus min! tapi kebanyakan gantungnya nih jadi penasaran hhe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: