1 Comment

The Assassin chapter 1


Title : The Assassin

Author : Astyujong

Casts : SS501′s Kim Hyunjoong, Kim Kyujong, Kim Hyungjun ; Kim Junri (OC)

Genre : Angst😉

Rating : PG-15? PG-16? or NC-17?

Length : Short Story

WARNING : TIDAK COCOK UNTUK KONSUMSI ANAK KECIL DAN YANG TIDAK TAHAN HAL-HAL BERBAU KEKERASAN.

Chapter 1

***

Aku merasakan tubuhku terguncang-guncang. Saat aku membuka mataku, aku sadar aku ada di gendongan Hyungjun oppa yang sedang berlari kencang menuju gudang. Ia segera membuka pintu gudang dan menguncinya, lalu membuka lemari yang ada di dalamnya. Ia mendorongku masuk ke dalam, lalu ikut masuk bersamaku.

“Oppa.. Ada apa? Kenapa aku dibangunkan? Aku masih ngantuk..” ujarku lugu.

“Sudahlah, tenang saja. Oppa akan selalu ada disini. Oppa janji akan menjagamu apapun yang terjadi..”
Suara Hyungjun oppa terdengar gemetar, ia sesekali mengelus rambutku. Ah, aku mengerti. Kami pasti bermain petak umpet.

“Lalu bagaimana dengan Kibum oppa, Eomma dan Appa? Kenapa mereka tidak ikut bermain dengan kita?”

“Mereka.. hiks..”

“Oppa.. Kenapa? Kenapa kau menangis?”

“ Mereka.. Mereka sudah pergi meninggalkan kita..”

“Kemana? Kenapa aku tidak boleh ikut?”

“Tidak. Mereka pergi ke tempat yang jauh.. Dan kita tidak boleh ikut. Sekarang kita harus sembunyi. Kalau tidak, dia akan menemukan kita..”

“Dia? Dia siapa?”

Tap.. Tap.. Tap..

Terdengar suara langkah kaki dari kejauhan. Samar, namun terdengar cukup jelas untuk membuatku sadar bahwa “Dia” sudah datang. Aku tak tahu siapa dia, dan kenapa dia mencari-cari kami berdua. Kenapa dia harus mencari kami yang berumur delapan dan delapan belas tahun?

“Ssst..”

Hyungjun oppa terus memelukku dan membekap mulutku agar suaraku tak terdengar oleh“nya”. Gelap. Ia dan aku tahu kami sama-sama tak suka gelap. Kenapa kami harus berada di tempat ini sekarang?

Tapi aku merasa sangat takut. Takut sekali. Aku takut akan terjadi sesuatu yang mengerikan. Aku mulai terisak pelan.

“Oppa.. Aku takut..” kataku di sela isakku.

“Sst, tenang saja.”

Brak..

Suara dobrakan pintu terdengar. Ia sudah masuk ke dalam ruangan ini, ruangan dimana aku dan oppaku bersembunyi. Aku seketika menahan isakanku.

“Hey.. Jangan takut.. Datanglah kemari.. Aku tidak akan menyakiti kalian.. Aku hanya ingin bermain-main dengan kalian.. Aku tahu kalian disini. Oh, kalian ingin bermain petak umpet, ya? Baiklah.. Waktu sudah habis. Aku kalah.. Keluarlah..”

Suara namja yang tak pernah kudengar sebelumnya itu membuatku semakin takut. Nada bicaranya terdengar halus, namun tidak seperti suara Hyungjun oppaku, suaranya terkesan menyeramkan.

Keringat dingin mengucur deras dari dahiku. Tanganku gemetar. Bisa kurasakan Hyungjun oppa juga begitu. Jantung kami berdegup cepat.

“Ayolah.. Jangan tunggu kesabaranku habis. Aku akan hitung sampai lima..”

“Satu..”

“Dua..”

“Tiga..”

“Empat..”

“Gotcha!”

Pintu lemari terbuka lebar dan tampaklah seorang namja yang kira-kira sebaya dengan oppaku berdiri menatap kami berdua. Ia menyeringai. Aku semakin merapat ke dalam pelukan Hyungjun oppa, terisak lagi. Di tangan namja itu tampak sebuah pisau yang ujungnya sangat tajam.

Tidak suka. Aku tidak suka bermain dengan pisau. Pisau itu berbahaya.

“Waktu main-mainnya sudah habis..”

“Kau! Apa yang kau inginkan dari kami?” tanya Hyungjun oppa.

Namja itu hanya menyeringai lebar. Ia lalu menarikku hingga terseret keluar dari lemari.

“Aaah!” pekikku.

“Junri-ah!”

Hyungjun oppa ikut keluar dari lemari dan mendorong tubuh namja itu hingga tersungkur menabrak kardus-kardus dan membuatku lepas dari genggamannya.

“Lari!” teriak Hyungjun oppa.

Aku lalu berlari ke arah pintu, Hyungjun oppa sepertinya ikut berlari bersamaku. Brak..

“AH!” terdengar pekikan Hyungjun oppa.

Aku berbalik dan melihat namja itu menarik kaki oppaku hingga ia terpelanting.

“Oppa!” teriakku.

“Lari, Junri-ah! Lari!” teriak Hyungjun oppa.

“Lalu bagaimana dengan oppa? Tidak! Aku tidak akan lari!”

Namja itu lalu menusukkan pisau tajamnya ke betis Hyungjun oppa.

“Aaaaaaah!”

Aku tahu Hyungjun oppa sangat kesakitan karenanya. Apa yang harus kulakukan? Darah segar mengalir dari betis Hyungjun oppa. Aku terduduk lemas di depan pintu. Kakiku rasanya kebas dan tak berdaya. Aku tak sanggup berjalan.. Aku tak sanggup berlari.

Namja itu menarik pisaunya ke bawah hingga menimbulkan luka yang panjang di betis Hyungjun oppa.

“Aaaaaah! Junri.. Junri-ah! Apa lagi yang kau lakukan? Ce-Cepatlah.. lari!”

“Tidak bisa, oppa! Kakiku lemas!”

“Aaaah..” pekik Hyungjun oppa saat namja berpisau itu mengeluarkan jeruk nipis dari sakunya, membelahnya lalu memerasnya di atas luka Hyungjun oppa yang lebar.

Tetesan air jeruk nipis itu masuk ke dalam luka Hyungjun oppa, menyentuh dagingnya yang terlihat.

“Ah! Perih.. Perih..” Air mata mengalir dari mata Hyungjun oppa.

Aku meringis. Tak dapat kubayangkan kalau itu adalah aku. Hyungjun oppa..

“Hyungjun oppa.. hiks.. Jangan sakiti dia.. Aku sangat menyayanginya..” pintaku.

“Tenang saja.. Setelah ini adalah giliranmu!”

“Junri-ah! Jebal.. Larilah.. Lari..”

Aku ingin berlari, namun kakiku tidak mendukung. Aku tidak bisa.. Lagipula bagaimana bisa aku meninggalkan Hyungjun oppa sendiri disini?

Namja itu lalu menyeret Hyungjun oppa dan memaksanya berdiri dengan satu kakinya. Namja itu lalu menjedutkan kepala Hyungjun oppa ke dinding berkali-kali.

“Oppa.. Hiks..”

Mata Hyungjun oppa terpejam. Darah mengucur deras dari kepalanya.

Namja itu lalu menjatuhkan Hyungjun oppa begitu saja hingga menimbulkan bunyi ‘gedebuk.’ Ia lalu mengambil sebuah cermin yang tergantung di dinding dan melemparkannya ke tubuh Hyungjun oppa.

Prangg..

Aku tak sanggup berkata-kata lagi. Mulutku bagaikan dilem dengan lem super. Mataku tak sanggup terpejam.

Namja itu lalu menginjak perut Hyungjun oppa hingga Hyungjun oppa terbatuk dan darah keluar dari mulutnya. Namja itu mengambil sekeping kaca yang berujung tajam dan menusuk nadi Hyungjun oppa dengan kepingan kaca itu. Darah mengalir deras dari nadi Hyungjun oppa yang sudah tak berdaya. Aku tak tahu dia masih hidup atau.. Tidak. Aku tak bisa membayangkannya.

Namun aku tak bisa melakukan apa-apa! Berteriakpun aku tak sanggup.

Namja itu masih belum berhenti. Ia menginjak tangan Hyungjun oppa hingga berbunyi “kretek..” Ia lalu berdiri dan mengambil sebuah setrika yang ada di atas meja setrika dan mencolokkan kabelnya hingga setrika itu menyala.

Apa yang akan dilakukannya lagi terhadap oppaku?

Dia mengoyak kaos yang dikenakan Hyungjun oppa, lalu menempelkan setrika yang sudah panas ke atas perutnya. Hyungjun oppa menggeliat sebentar, lalu diam. Namja itu tak berhenti. Ia membuang begitu saja setrika yang masih menyala. Ia lalu mengambil pisaunya lagi dan menusukkannya ke perut Hyungjun oppa.

Tidak. Aku takkan membiarkan dia terus menyiksa oppaku. Lalu apa yang harus kuperbuat? Aku menggerakkan kakiku dengan susah payah, lalu kuraih setrika yang masih panas dan kutempelkan ke punggung namja itu.

“Aaaargh!” pekik namja itu kesakitan. Bajunya sampai bolong dan setrika membekas di punggungnya.

Aku lalu merangkak dan berdiri, lalu mencoba sekuat tenaga berlari keluar dari gudang.

“Hey! Kau mau kemana? Kau takkan lolos dariku!”

Seketika terdengar suara sirene polisi dari kejauhan. Polisi! Berarti tadi Hyungjun oppa sempat menghubungi polisi. Namja itu terlihat bingung. Ia lalu berlari lewat jendela.

Beberapa saat sesudahnya masuklah beberapa ahjusshi polisi. Seorang ahjusshi menggendongku dan aku terisak kencang di gendongannya.

Seseorang mendekati tubuh Hyungjun oppa dan memeriksanya.

“Sudah meninggal..”

Dan tangisankupun menjadi sangat deras karenanya.

“Lapor, komandan!” seorang ahjusshi lainnya mendatangi kami.

“Ada apa?”

“Kami menemukan tiga mayat lainnya di ruangan depan, komandan! Sepertinya.. Mereka adalah keluarga anak ini juga..”

Aku tak tahu. Aku tak tahu bagaimana ini semua bisa terjadi. Hancur. Hidupku sudah hancur karenanya. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan selanjutnya. Aku tak tahu bagaimana hidupku tanpa keluargaku. Aku tak tahu..

***

Delapan tahun kemudian..

Kini aku sudah berumur enam belas tahun. Hidup di panti asuhan ini, tanpa orangtua dan kedua oppaku benar-benar bukan hidup. Aku tak bisa keluar dari panti asuhan ini, dan disini mereka benar-benar mengurungku.

“Junri-ah.. Ini.. Kau belum makan siang..”

Seorang perawat yang dikhususkan untuk menjagaku menyodorkan sebuah piring berisi makanan kesukaanku. Namun aku benar-benar tidak ingin makan saat ini. Kutepiskan piring itu hingga jatuh dan pecah berkeping-keping.

Aku lalu tertawa sendiri.

Yah, terserahlah kalian mau menyebutku gila atau apa.

Yang jelas sampai saat ini aku tak tahu bagaimana yang namanya hidup. Mungkin seperti ini. Aku sering tertawa tanpa alasan, lalu menangis sesudahnya. Setidaknya aku bisa tertawa walau hatiku teriris tiap mendengar tawaku sendiri.

Perawat itu meninggalkanku sendiri. Aku menaikkan kakiku ke atas kursi dan memeluknya, lalu menangis di antara keduanya. Bagaimana? Aku tak pernah lagi merasakan kebahagiaan. Aku ingin seperti dulu.. Berjalan-jalan berlima dengan keluargaku, makan es krim bersama, membeli mainan.. Namun aku tidak bisa. Aku sungguh merindukan mereka.

Aku lalu berdiri dan berjalan menghampiri seorang kepala Panti Asuhan.

“Ahjumma.. Bisakah aku keluar hanya untuk hari ini?”

“Kau mau kemana?”

“Ke pemakaman keluargaku..”

Ahjumma itu menatapku prihatin. Lalu mengangguk dan menuntunku menuju gerbang.

“Jangan lama-lama, ya.. Ingat, kau harus langsung pulang kesini.”

Aku mengangguk dan berjalan keluar. Aku sering mengunjungi keluargaku yang ada di bawah tanah sana. Walau aku tak bisa melihat mereka, aku yakin mereka tahu aku sering mengunjungi mereka. Dan mengenai pembunuh itu.. Aku tak tahu dimana dia sekarang. Aku takut.. Jujur aku masih takut jika Tuhan memberikanku kesempatan untuk bertemu dengannya lagi.

Aku lalu berbelok menuju kompleks pemakaman yang tidak terlalu jauh dari panti asuhan tempat aku tinggal saat ini. Aku lalu berjongkok di depan empat makam yang berderet.

Aku menangis.

“Eomma.. Appa.. Hyungjun oppa.. Kibum oppa.. Apa kabar? Kalian bahagiakah disana? Aku disini kesepian. Aku sungguh merindukan kalian..”

Aku mengelus nisan mereka satu persatu.

“Kau merindukan mereka?”

Terdengar suara seorang namja yang rasanya pernah kudengar sebelumnya. Namun aku tak mau tahu dan tak peduli siapa dia.

Aku hanya mengangguk.

“Kalau begitu.. Aku akan membantumu segera menyusul mereka kesana!”

Aku berbalik dan melihatnya berdiri menghadapku. Tidak.. Jangan katakan dia adalah..

“Apa kau merindukanku juga? Tenang saja.. Tidak akan terasa sakit.. Hanya akan terasa seperti digigit semut saja, kok..”

Suaranya bagai suara seosaengnim saat membujukku ikut imunisasi saat aku TK dulu.

“K-Kau..”

Aku berjalan mundur menjauh darinya, namun ia makin mendekat ke arahku.

“Ya, aku adalah namja yang delapan tahun lalu membuatmu kehilangan segalanya. Oh iya, kita belum berkenalan. Namaku..Kim Hyunjoong.”

“Apa yang ingin kau lakukan padaku? Kenapa kau membunuh keluargaku?”

“Aku tidak tahu..”ujar namja itu santai. “Membunuh orang itu mengasyikkan. Namun diantara puluhan orang yang kubunuh beberapa tahun belakangan ini, tak ada yang semenarik dirimu. Aku sudah lama menunggumu, aku ingin kau dewasa dulu baru aku bisa membunuhmu. Sungguh aku ingin membunuhmu. Apa kau mau? Kau boleh pilih.. Ingin yang lama atau yang cepat?”

Aku terus mundur dan menggeleng. Aku lalu tersandung sebuah batu dan terjatuh ke belakang. Namja itu tersenyum dan menindihku. Ia mengeluarkan sebilah pisau, lalu mendekatkannya ke wajahku.

“Tolong!” teriakku.

Dan pisau itu semakin dekat ke arah leherku, lalu..

credit:elftriples

About azuhra

Hi... :) I'm just a little girl in a big world. I'm Indonesian. Nice to meet you all. I heart you all. Oh, i forget it, i'm moslem. and i'm not a terorist!!! there's no moslem is terorist. terorists aren't moslem. ^^

One comment on “The Assassin chapter 1

  1. […] This post was mentioned on Twitter by Dian rizky amalia, Korean Loverz Indo. Korean Loverz Indo said: The Assassin chapter 1 http://goo.gl/fb/NKEeL […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: